Breaking News
Beranda » Kegiatan » Urgensi Ilmu dalam kehidupan seorang hamba

Urgensi Ilmu dalam kehidupan seorang hamba

rabithahcirebon.com – Habib Haidar bin Segaf Assegaf membuka acara rouhah bulanan dengan menuntun para hadirin membaca doa yang biasa dibaca oleh para salafus sholeh sebelum memulai rouhah, dilanjutkan dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt. Serta sholawat kepada junjungan Nabi Muhammad Saw dan memberikan salam penghormatan kepada para masyayikh yang hadir pada acara tersebut

Kemudian beliau sekali lagi mengajak para hadirin untuk benar-benar bersyukur kepada Allah swt atas ni’mat yang begitu besar, yaitu dijadikannya sebaik-baiknya keturunan yang silsilah keilmuan dan nasabnya bersambung sampai kepada baginda Nabi Muhammad saw, yang tidak pernah kita minta kepada Allah swt. Sebagaimana dikatakan syekh ibn Arsalan dalam kitab nadhom ZUBAD : “وأضل الصحب وخير أل “,

Nabi Muhammad saw dipilih sebagai sebaik-baik makhluk Allah SWT daripada kalangan para Nabi dan rosul, dan sahabat Nabi Muhammad saw dipilih oleh Allah SWT sebagai sebaik-baik dan paling utamanya  sahabat daripada sahabat nabi sebelum nabi Muhammad saw, dan ahlul bait Nabi adalah sebaik-baik dan paling utamanya keluarga yang dipilih oleh Allah SWT daripada keluarga nabi yang lain.

Beliau mengatakan bahwasanya kita sebagai ahlul bait yang memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Nabi saw, harus sadar, berfikir dan berintrospeksi diri, bahwasanya didalam tubuh kita mengalir darah Rosulullah saw, terdapat atsar daripada baginda Nabi saw, kedua hal tersebut jangan sampai dijadikan ajang membanggakan diri sebagai keturunan Nabi saw. Rosulullahأbersabda:

أنا سيد ولد آدم ولافخر …” “

Nabi Muhammad saw diciptakan sebagai sebaik-baiknya keturunan  Nabi Adam namun beliau tidak berbangga-bangga dengan gelar tersebut. Artinya kita sebagai cucu-cucu keturunan Nabi saw jangan berbangga diri apalagi garis keturunan kita amatlah jauh dari Nabi Muhammad saw. sebagaimana beliau dalam satu riwayat dikisahkan sangatlah senang dengan sholat malam sampai-sampai membengkak kedua kaki beliau saw, maka bertanyalah sayidatuna ‘Aisyah Ra. :” wahai Rosul mengapa engkau mengerjakan hal demikian, bukankah Allah swt telah mengampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang kepada engkau?” maka Rosulullah saw. berkata :

” أفلا أكون عبدا شكورا” apakah aku tidak boleh menjadi hambai Allah yang pandai bersyukur?

Rosulullah saw yang dijamin syurga, dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa, masih terus beribadah kepada Allah, masih terus menggapai cinta Allah swt, masih terus menggapai keridhoan Allah swt. Namun apa yang telah kita korbankan untuk menggapai cinta Allah dan cinta Rosulullah saw kakek kita??.

Sayidina Ali Zainal Abidin bin sayyidina Husain cicit daripada Nabi Muhammad saw yang dijuluki ”As-Sajjad (السجاد) karena ibadah beliau yang sering memperbanyak sujud kepada Allah. Terkenal dengan ilmu, amal dan ibadahnya.

Syekh Umar Muhdhor bin Abdurrahman Assegaf yang terkenal dengan keilmuan,kewalian, dan kewara’an-nya,  ibadahnya, pernah suatu saat bernadzar, bahwasanya jika ada satu amal beliau yang diterima oleh Allah swt, maka beliau akan memberi makan seluruh penduduk tarim. Ini adalah suatu pelajaran dan ibroh untuk kita bahwasannya tidak ada satupun yang tahu apakah amal kita diterima oleh Allah swt.

Itulah sedikit contoh daripada kisah riwayat kakek-kakek kita yang bisa kita contoh dari segi Ibadahnya, walapun mereka keturunan terdekat kepada Baginda Nabi saw, tetapi mereka tidak berbangga diri, bahkan mereka terus berusaha menjadi sebaik-baiknya hamba Allah melalui ibadah mereka.

Itulah sekilas kisah para kakek-kakek alawiyyin didalam ibadahnya.

Lalu bagaimanakah mereka dalam menuntut ilmu?….. karena para saadah alwiyah didalam thoriqohnya memiliki 5 dasar yaitu :

  1. Ilmu
  2. Amal
  3. Khouf dan Roja’
  4. Wara’
  5. Ikhlas

Beliau menyampaikan bahwa beliau akan menyampaikan sedikit dari asas thoriqoh alawiyah yang pertama yaitu ilmu. Beliau juga menyampaikan bahwasanya kehadiran beliau bukan untuk menggurui tetapi “من باب التذكر” (saling mengingatkan) sbagaimana firman Allah swt :

فذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين

Dan juga dalam rangka saling memberikan wasiat sbagaimana firman Allah dalam ayat terakhir surat Al’ashr. Juga dalam rangka saling memberikan nasehat sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad saw. : وإذااستنصحك فانصح له  dan apabila ada yang minta nasihat kepadamu, maka nasihatilah.

Maka beliau mulai melanjutkan kepada pembahasan inti rouhah bulanan yaitu asa pertama dalam thoriqoh alawiyah yaitu ILMU.

Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-syafi’i berkata : العلم نور ونور الله لا يعطى للعاصي ”

“Ilmu adalah nur, dan Nur Allah tidak akan diberikan kepada ahli ma’siyat”. Oleh karena itu ilmu Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang terpilih yang diberikan cahaya Allah berupa ilmu, dan ilmu bersumber dari cahaya Allah dan hanya akan diberikan kepada orang-orang  yang memiliki kebesihan hati dan jiwa.

Rosulullah saw bersabda pada salah satu khutbahnya :” Aku tinggalkan dua perkara, barangsiapa yang berpegang pada kedua perkara tersebut maka dia tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (Alquran) yang didalamnya terdapat petunjuk kepada jalan Allah dan yang kedua adalah Ahlul baitku (keluargaku)…..” (Alhadist)

Maka barang siapa berpegan teguh pada dua perkara tersebut maka dia akan selamat.

Melihat hadis diatas yang mana salah satu pedoman pegangan manusia agar selamat adalah ahlul Bait (keluarga/keturunan) Rosulullah saw, maka bagaimana sebuah tongkat  yang rapuh bisa dijadikan penuntun dan pegangan yang bisa menyelamatkan orang yang buta didalam perjalanannya?…artinya bagaimana apabila yang disebut ahlul bait (keturunannya) tidak memiliki ilmu?

Al-‘Aliimul Allamah Shulthonul Ulama Alhabib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri berkata :

إذا صلحت الحبائب صلح كل شيئ وإذا فسدت الحبائب فسد كل شيئ

“Apabila baik habaib maka segala sesuatunya akan baik, namun apabila buruk habaib maka segala sesuatunya”. karena itu kita sebagai ahlul bait keturunan nabi muhammad saw. bisa semaksimal mungkin memberikan contoh akhlak yang baik terhadap umat, yang mana itu semua bisa menyelamatkan mereka. Sebagaimana hadist nabi yang artinya “aku dan keluargaku seperti halnya bahtera Nuh as. Barang siap yang menaikinya maka ia akan selamat dari bajir besar, barang siapa yang enggan ikut maka dia akan tenggelam”. Oleh karena itu beliau habib haedar assegaf menegaskan bahwa, perahu yang kita miliki hendaknya kita persiapkan dengan baik jangan sampai perahu tersebut bocor dan meneggelamkan seluruh penumpangnya.

Diriwayatkan bahwasanya sahabat Abu Hurairah ra. Mendatangi pasar pada zaman Rosulullah saw. seraya berkata :”wahai penghuni pasar tidakkah kalian tahu?, Rosulullah saw sedang membagi-bagikan warisannya dimasjid”. Maka dengan bersegera orang-orang diipasar tersebut berbondong-bondong menuju masjid dengan harapan mereka akan mendapat bagian daripada warisan Rosulullah saw. namun sesampainya mereka dimasjid,  mereka tidak mendapatkan apa yang di beritakan oleh Abu Hurairah ra. kecuali sekelompok orang yang sedanng belajar ilmu agama didalam masjid. Maka mereka bertanya kepada sahabat Abu Hurairah :” wahai Abu Hurairah, mana yang engkau katakan bahwasanya Rosul saw sedang membagi-bagikan warisannya?” maka Abu Hurairah berkata :”celakalah kalian”. Para rosul tidaklah mewariskan harta, melainkan mewariskan ilmu.

Beliau menyampaikan bahwasanya Rosulullah saw mewariskan ilmu, maka yang lebih berhak atas ilmu tersebut adalah ahli warisnya yaitu keturunan beliau saw. tidak akan mungkin ada yang lebih berhak kecuali kita anak cucu keturunan rosulullah saw. beliau menegaskan kembali bahwa kita sebagai saadah bani alawi keturunan Rosulullah saw. haruslah mempunyai perhatian penuh terhadap ilmu, terlebih lagi ilmu agama yang dibawa oleh Kakek-kakek kita yang mulia karena ini merupakan kewajiban ahli waris untuk menjalankan washiat baginda Nabi Muhammad saw.

Sebagaimana para salaf kakek moyang kita yang ada di hadromaut yaman dahulu dan sekarang, bagaimana perhatian mereka,waktu, tenaga, pikiran mereka semua tercurahkan untuk ilmu. Jangannlah kita lihat mereka hanya dari karomah, kewalian kemasyhuran namanya, namun kita lihat bagaimana perjuangan dan mujahadah mereka dalam menuntu ilmu, semangat mereka dalam mempelajari ilmu agama, khidmah mereka didalam ilmu, sehingga mereka menjadi orang-orang yang kita kenal. Seperti sayyidina Ahmad bin Isa yang dijuluki Almuhajir Ilallah, beliau memiliki keilmuan yang mumpuni bahkan derajat beliau mencapai derajat mujtahid mutlaq, yaitu derajat yang dicapai oleh imam syafi’i dan 3 imam madzhab lainnya, bahkan jikalau beliau mau, maka beliau bisa menciptakan madzhab seperti imam madzhab yang telah ada, namun karena ketawadhu’an beliau beliau tetap bermadzhab kepada Imam syafi’i.  Disebutkan juga Alhabib Abdullah alhaddad, Alhabib Abdurrahman Assegaf, dan putra beliau syekh umar muhdhor, mereka juga telah mencapai derajat mujtahid mutlaq.

Yang perlu kita tekankan dan kita contoh adalah perjuangan dan pengorbanan beliau didalam menuntut ilmu sehingga bisa mencapai derajat yang tinggi.

Beliau mengatakan, sebagaimana jasmani kita yang memerlukan asupan makanan setiap harinya, maka ruhani kitapun perlu asupan makanan. Jikalau makanan jasmani adalah nasi atau yang lainnya, maka makanan ruhani adalah ilmu. Beliau juga menegaskan apabila jasad kita tidak kemasukan makanan selama tiga hari berturut-turut, maka kita akan mersakan lemas bahkan bisa menimbulkan kematian, begitu pula ruh apabila tidak dimasukkan ilmu selama tiga hari berturut-turut maka ruh kiat pu akan koma dan sekarat.

Rouhah bulanan ini ditutup oleh qosidah yang dilantunkan dengan syahdu oleh habib soleh bin yusuf aljufri.

(28 Feb 2016)

Tentang crb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *